<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076</id><updated>2011-12-15T10:43:28.738+08:00</updated><title type='text'>BERITA KO-ASS</title><subtitle type='html'>WWW.BERITA-KOASS.BLOGSPOT.COM TERSELENGGARA ATAS KERJASAMA RUMAH SINGGAH DOKTER MUDA (RSDM) dengan IKATAN SARJANA KEDOKTERAN INDONESIA (ISKedI)MAKASSAR</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076.post-117089542562523415</id><published>2007-02-08T08:41:00.000+08:00</published><updated>2007-02-08T08:43:45.683+08:00</updated><title type='text'>Kedokteran dalam Sejarah</title><content type='html'>Pada awalnya, sebagian besar kebudayaan dalam masyarakat awal menggunakan tumbuh-tumbuhan herbal dan hewan untuk tindakan pengobatan. Ini sesuai dengan kepercayaan magis mereka yakni animisme, sihir, dan dewa-dewi. Masyarakat animisme percaya bahwa benda mati pun memiliki roh atau mempunyai hubungan dengan roh leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu kedokteran berangsur-angsur berkembang di berbagai tempat terpisah yakni Mesir kuno, Tiongkok kuno, India kuno, Yunani kuno, Persia, dan lainnya. Sekitar tahun 1400-an terjadi sebuah perubahan besar yakni pendekatan ilmu kedokteran terhadap sains. Hal ini mulai timbul dengan penolakan–karena tidak sesuai dengan fakta yang ada–terhadap berbagai hal yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh pada masa lalu (bandingkan dengan penolakan Copernicus pada teori astronomi Ptolomeus. Beberapa tokoh baru seperti Vesalius (seorang ahli anatomi) membuka jalan penolakan terhadap teori-teori besar kedokteran kuno seperti teori Galen, Hippokrates, dan Avicenna. Diperkirakan hal ini terjadi akibat semakin lemahnya kekuatan gereja dalam masyarakat pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ilmu kedokteran yang seperti dipraktekkan pada masa kini berkembang pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Inggris (oleh William Harvey, abad ke-17), Jerman (Rudolf Virchow) dan Perancis (Jean-Martin Charcot, Claude Bernard). Ilmu kedokteran modern, kedokteran "ilmiah" (di mana semua hasil-hasilnya telah diujicobakan) menggantikan tradisi awal kedokteran Barat, herbalisme, humorlasime Yunani dan semua teori pra-modern. Pusat perkembangan ilmu kedokteran berganti ke Britania Raya dan Amerika Serikat pada awal tahun 1900-an (oleh William Osler, Harvey Cushing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedokteran berdasarkan bukti (evidence-based medicine) adalah tindakan yang kini dilakukan untuk memberikan cara kerja yang efektif dan menggunakan metode ilmiah serta informasi sains global yang modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ilmu genetika telah mempengaruhi ilmu kedokteran. Hal ini dimulai dengan ditemukannya gen penyebab berbagai penyakit akibat kelainan genetik, dan perkembangan teknik biologi molekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu herbalisme berkembang menjadi farmakologi. Masa modern benar-benar dimulai dengan penemuan Heinrich Hermann Robert Koch bahwa penyakit disebarkan melalui bakteria (sekitar tahun 1880), yang kemudian disusul penemuan antibiotik (sekitar tahun 1900-an). Antibiotik yang pertama kali ditemukan adalah obat Sulfa, yang diturunkan dari anilina. Penanganan terhadap penyakit infeksi berhasil menurunkan tingkat infeksi pada masyarakat Barat. Oleh karena itu dimulailah industri obat. Kini industri obat lebih mengarah ke pembuatan obat untuk penyakit tertentu, obat untuk perawatan kanker, masalah geriatrik (penyakit pada manula), penyakit degeneratif, dan penyakit karena gaya hidup (seperti kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, dan artritis).&lt;br /&gt;Praktek kedokteran mengombinasikan sains dan seni. Sains dan teknologi adalah bukti dasar atas berbagai masalah klinis dalam masyarakat. Seni kedokteran adalah penerapan gabungan antara ilmu kedokteran, intuisi, dan keputusan medis untuk menentukan diagnosis yang tepat dan perencanaan perawatan untuk masing-masing pasien serta merawat pasien sesuai dengan apa yang diperlukan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat dari praktek kedokteran adalah hubungan relasi antara pasien dan dokter yang dibangun ketika seseorang mencari dokter untuk mengatasi masalah kesehatan yang dideritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktek, seorang dokter harus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * membangun relasi dengan pasien&lt;br /&gt;    * mengumpulkan data (riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik dengan hasil laboratorium atau citra medis)&lt;br /&gt;    * menganalisa data&lt;br /&gt;    * membuat rencana perawatan (tes yang harus dijalani berikutnya, terapi, rujukan)&lt;br /&gt;    * merawat pasien&lt;br /&gt;    * memantau dan menilai jalannya perawatan dan dapat mengubah perawatan bila diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang dilakukan dokter tercatat dalam sebuah rekam medis, yang merupakan dokumen yang berkedudukan dalam hukum.&lt;br /&gt;Hubungan relasi pasien dan dokter adalah proses utama dari praktek kedokteran. Terdapat banyak pandangan mengenai hubungan relasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang ideal, seperti yang diajarkan di fakultas kedokteran, mengambil sisi dari proses seorang dokter mempelajari tanda-tanda, masalah, dan nilai-nilai dari pasien; maka dari itu dokter memeriksa pasien, menginterpretasi tanda-tanda klinis, dan membuat sebuah diagnosis yang kemudian digunakan sebagai penjelasan kepada pasien dan merencanakan perawatan atau pengobatan. Pada dasarnya, tugas seorang dokter adalah berperan sebagai ahli biologi manusia. Oleh karena itu, seorang dokter harus paham benar bagaimana keadaan normal dari manusia sehingga ia dapat menentukan sejauh mana kondisi kesehatan pasien. Proses inilah yang dikenal sebagai diagnosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat kata kunci dari diagnosis dalam dunia kedokteran adalah anatomi (struktur: apa yang ada di sana), fisiologi atau faal (bagaimana struktur tersebut bekerja), patologi (apa kelainan dari sisi anatomi dan faalnya), dan psikologi (pikiran dan perilaku). Seorang dokter juga harus menyadari arti 'sehat' dari pandangan pasien. Artinya, konteks sosial politik dari pasien (keluarga, pekerjaan, tingkat stres, kepercayaan) harus turut dipertimbangkan dan terkadang dapat menjadi petunjuk dalam kepentingan membangun diagnosis dan perawatan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bertemu dengan dokter, pasien akan memaparkan komplainnya (tanda-tanda) kepada dokter, yang nantinya akan memberikan berbagai informasi tentang tanda-tanda klinis tersebut. Kemudian dokter akan memeriksa, mencatat segala yang ditemukannya pada diri pasien dan memperkirakan berbagai kemungkinan diagnosis. Bersama pasien, dokter akan menyusun perawatan berikutnya atau tes laboratorium berikutnya bila diagnosis belum dapat dipastikan. Bila diagnosis telah disusun, maka dokter akan memberikan ("mengajarkan") nasihat medis. Relasi pengajaran ini menempatkan dokter sebagai guru (Physician dalam Bahasa Inggris; berasal dari bahasa Latin yang berarti guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi dokter dan pasien dapat dianalisa dari pandangan masalah etika. Banyak nilai dan masalah etika yang dapat ditambahkan ke relasi ini. Tentunya, masalah etika amat dipengaruhi oleh tingkat masyarakat, masa, budaya, dan pemahan terhadap nilai moral. Sebagai contoh, dalam 30 tahun terakhir, penegasan dan tuntutan terhadap hak otonomi pasien kian meningkat di dalam dunia kedokteran Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi dan proses praktek juga dapat dilihat dari sisi relasi kekuatan sosial (seperti yang dikemukakan Michel Foucault atau transaksi ekonomi. Profesi dokter memiliki status yang lebih tinggi pada abad lalu, dan mereka dipercaya untuk melakukan tindakan dalam kesehatan masyarakat. Hal ini membawa suatu kekuatan tersendiri dan membawa keuntungan serta kerugian bagi pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 25 tahun terakhir ini, kebebasan dokter dipersempit. Terutama dengan kehadiran perusahaan asuransi seiiring naiknya biaya perawatan kesehatan. Di berbagai negara (seperti Jepang) pihak asuransi juga mempunyai pengaruh dalam penentuan keputusan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas relasi pasien dan dokter sangat penting bagi kedua pihak. Saling menghormati, kepercayaan, pertukaran pendapat mengenai penyakit dan kehidupan, ketersediaan waktu yang cukup, mempertajam ketepatan diagnosis, dan memperkaya wawasan pasien tentang penyakit yang dideritanya; semua ini dilakukan agar relasi kian baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi kian kompleks di luar ruang praktek pribadi dokter, seperti pada bangsal rumah sakit. Dalam rumah sakit, relasi tak hanya antara dokter dan pasien, namun juga dengan pasien lainnya, perawat, pekerja dari lembaga sosial, dan lainnya.&lt;br /&gt;Sebuah evaluasi medis yang lengkap terdiri dari sebuah riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium atau citra medis, analisa data, dan penentuan diagnosis, dan perencanaan perawatan atau pengobatan.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang termasuk dalam riwayat kesehatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Komplain utama: alasan pasien datang kepada dokter. Hal ini disebut tanda atau gejala. Dituliskan sesuai dengan yang diungkapkan oleh pasien.&lt;br /&gt;    * Riwayat dari penyakit (HPI: History of present illness): urutan kronologis dari tanda-tanda dan klasifikasi dari setiap tanda.&lt;br /&gt;    * Aktivitas kini: hal-hal yang berkaitan aktivitas pasien sekarang seperti pekerjaan, hobi, dan lainnya.&lt;br /&gt;    * Pengobatan: obat apa yang digunakan pasien sebelum menemui dokter, termasuk alergi.&lt;br /&gt;    * Riwayat kesehatan lampau (PMH: Past medical history): perawatan yang pernah dijalani pasien sebelumnya, cedera, penyakit infeksi yang pernah diderita, vaksinasi, alergi yang pernah diderita.&lt;br /&gt;    * Tinjauan sistem tubuh (ROS: Review of systems): menanyakan pasien mengenai kondisi sistem organ utamanya seperti jantung, paru-paru, sistem pencernaan (traktus digestivus), dan lainnya.&lt;br /&gt;    * Sejarah sosial (SH: Social history): tempat lahir, tempat tinggal, status perkawinan, status sosial ekonomi, kebiasaan (termasuk diet), penggunaan obat, tembakau, dan alkohol.&lt;br /&gt;    * Sejarah keluarga (FH: Family history): membuat daftar penyakit apa saja yang pernah diderita oleh keluarga pasien yang dapat diturunkan (penyakit genetik). Biasanya dibuat dalam silsilah keluarga atau pohon keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemeriksaan fisik, dokter berusaha mencari tanda yang dapat mendukung proses pembuatan diagnosisnya. Dokter menggunakan indera penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan terkadang juga dengan penciuman. Empat metode utama untuk pemeriksaan fisik: melihat (inspeksi), merasakan/menyentuh (palpasi), mengetuk untuk membedakan karakteristik resonansi (perkusi), mendengar (auskultasi); mencium terkadang diperlukan seperti untuk membaui urea pada penyakit uremia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisik mencakup:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Tanda vital termasuk tinggi, berat badan, suhu tubuh, tekanan darah, denyut, kecepatan bernapas, tingkat hemoglobin darah,&lt;br /&gt;    * Tampakan umum pasien dan penunjuk spesifik dari penyakit.&lt;br /&gt;    * Kulit, kepala, mata, telinga, hidung, tenggorokan, dan kerongkongan.&lt;br /&gt;    * Kardiovaskular jantung dan pembuluh darah&lt;br /&gt;    * Saluran pernapasan (termasuk paru-paru)&lt;br /&gt;    * Tubuh (abdomen) dan rektum&lt;br /&gt;    * Organ genitalia (kelamin)&lt;br /&gt;    * Otot rangka (anggota gerak tubuh)&lt;br /&gt;    * Kondisi persarafan (kesadaran, orak, saraf kranial, saraf perifer)&lt;br /&gt;    * Psikiatrik atau kejiwaan (orientasi, mental)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil laboratorium dan pencitraan medis dapat digunakan bila diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan ini dapat berlangsung hanya dalam beberapa menit bila masalahnya sederhana maupun hingga berminggu-minggu bila pasien mengalami masalah pada beberapa sistem tubuhnya sehingga diperlukan rujukan ke beberapa dokter spesialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: WIKIPEDIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33690076-117089542562523415?l=berita-koass.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/117089542562523415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33690076&amp;postID=117089542562523415' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/117089542562523415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/117089542562523415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/2007/02/kedokteran-dalam-sejarah.html' title='Kedokteran dalam Sejarah'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076.post-117089525266371424</id><published>2007-02-08T08:40:00.000+08:00</published><updated>2007-02-08T08:40:52.746+08:00</updated><title type='text'>Hubungan Dokter-Pasien</title><content type='html'>Sungguh ironis bahwa di tengah perkembangan teknologi dan kedokteran saat ini bangsa Indonesia sebenarnya masih sangat terbelakang dalam hal kesehatan. Hal ini tercermin dari perilaku pasien yang karena ketidaktahuannya menyerahkan nasib sepenuhnya kepada dokter atau rumah sakit sehingga seringkali menjadi korban malapraktik, atau malah bersikap cuek dan potong kompas dengan mengobati dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, keawaman pasien ini terjadi pada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mereka yang mampu berobat ke luar negeri sekalipun sebagian besar tidak mempunyai pengetahuan yang memadai tentang aspek dasar pemeliharaan kesehatan maupun pengobatan penyakit. Akibatnya, pasien seringkali bingung menghadapi masalah kesehatan yang dihadapinya. Pola komunikasi yang cenderung satu arah disertai sikap dokter yang arogan dan paternalistik membuat pasien enggan bertanya kepada dokter. Celakanya lagi, banyaknya mitos dan kabar burung yang beredar di masyarakat seputar dunia kesehatan membuat pasien dibanjiri dengan informasi yang salah. Tidak sedikit pula iklan produk di pasaran yang sebenarnya misleading namun kemudian dianggap benar oleh masyarakat –tampilan iklan yang meyakinkan karena ditunjang hasil uji klinis atau karena iklan tersebut menampilkan sosok selebriti atau pakar kesehatan membuat masyarakat percaya. Terlebih lagi, placebo effect dari produk tersebut seringkali membuat masyarakat percaya bahwa produk tersebut memang baik untuk kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Health Talk yang saya dirikan dan asuh sejak tahun lalu juga menunjukkan fenomena menarik mengenai perilaku pasien. Dalam setiap pertemuan bulanan, kami membahas satu atau dua topik bersama Profesor Iwan Darmansjah, SpFK dan dalam setiap pertemuan saya mengamati kecenderungan para peserta untuk diam saja meskipun mereka kurang memahami apa yang sedang didiskusikan. Beberapa dari mereka kemudian menyampaikan kesulitan pemahaman ini kepada saya, namun setiap kali saya menanyakan mengapa mereka tidak langsung bertanya kepada si pembicara, mereka menyatakan enggan karena malu atau takut dianggap bodoh. Pepatah mungkin mengatakan “malu bertanya, sesat di jalan”, tapi dalam kenyataannya banyak orang yang masih terjebak dalam keadaan seperti itu.&lt;br /&gt;Dalam interaksi antara dokter dan pasien, kedudukan dokter yang relatif lebih tinggi dari pasien seringkali membuat pasien enggan bertanya. Ada beberapa kemungkinan yang menjadi alasan mengapa hal ini terjadi: malu, takut dianggap bodoh, atau enggan karena dokter berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti pasien – banyak istilah kedokteran yang membuat pasien kebingungan dan tidak tahu harus bertanya dari mana. Jay Katz dalam bukunya yang berjudul “The Silent World of Doctor and Patient” merujuk pada fenomena di mana pasien, karena penderitaan yang diakibatkan oleh penyakitnya, menaruh harapan yang besar pada dokter sehingga kemudian secara tak sadar ia pun mencitrakan dokter sebagai figur yang mulia dan tidak mungkin berbuat salah (infallible). Akibatnya pasien pun menyerahkan nasib sepenuhnya kepada dokter dan dokter yang memutuskan tindakan medis apa yang harus dilakukan tanpa berkonsultasi dengan pasien. Dokter juga bersikap arogan, judes, patronizing terhadap pasien sehingga sulit diajak berkomunikasi. Jay Katz melansir bahwa hal ini disebabkan karena keinginan sang dokter untuk mempertahankan citra profesinya yang dipandang terhormat di masyarakat; lebih baik membatasi komunikasi daripada banyak bicara dan bisa sekali waktu tidak dapat menjawab pertanyaan pasien secara memuaskan. Sikap demikian semakin memperlebar jurang komunikasi antara dokter dengan pasien dan tidak jarang berbuntut sengketa malapraktik yang sebagian besar merugikan pasien. Di Amerika Serikat sendiri, keadaan ini sempat berlangsung cukup lama sampai kemudian buku karangan Jay Katz tersebut memotivasi para praktisi medis untuk melakukan reformasi menyeluruh terhadap pola hubungan dokter dan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang kemudian timbul adalah bagaimana pola hubungan antara dokter dengan pasien yang ideal? Sudah sedemikian parahkah hubungan ini sehingga perlu dilakukan perubahan yang drastis? Mungkin ada baiknya sebagai pasien kita berkaca pada diri kita sendiri. Seiring dengan makin maraknya pemberitaan media masa tentang dugaan malapraktik kedokteran, sebenarnya ada masalah yang tak kalah pentingnya dengan masalah kemerosotan moral dokter, yaitu masalah keawaman pasien. Keawaman yang dimaksud mencakup minimnya pengetahuan dasar pasien mengenai aspek kesehatan, pengetahuan mengenai penyakit yang diderita, serta ketidaktahuan pasien tentang hak dan kewajibannya sebagai pasien. Terkait dengan masalah ini adalah keengganan pasien untuk bertanya, sehingga masalah ini menjadi semakin parah.&lt;br /&gt;Keawaman pasien seringkali membuat komunikasi antara dokter dan pasien terhambat atau bahkan menemui jalan buntu. Prof. Iwan Darmansjah, SpFK memberi contoh bagaimana sulitnya seorang dokter menegakkan diagnosa karena pasien tidak bisa mengungkapkan dengan jelas keluhan yang dideritanya: banyak pasien yang menganggap sakit kepala dan pusing adalah hal yang sama sehingga pasien tersebut menggunakan kedua istilah tersebut tanpa perbedaan (interchangeably). Akibatnya, seorang dokter yang kurang berpengalaman atau kurang ahli dalam menyusun anamnesis (sejarah penyakit) bisa mengambil kesimpulan yang salah atas cerita sang pasien dan diagnosis yang ditegakkannya pun menjadi salah. Memang menyusun anamnesis yang baik dalam profesi kedokteran adalah seni yang membutuhkan pengalaman serta bakat seorang dokter – tugas ini saya kira serupa dengan tugas seorang detektif dalam memecahkan misteri kasus kejahatan. Selain itu, dokter yang ahli biasanya dibanjiri banyak sekali pasien sehingga sulit baginya untuk bisa meluangkan cukup waktu bagi setiap pasien dalam proses penyusunan anamnesis. Namun tidak dapat dibantah pula bahwa pasien juga berperan dalam hal ini karena masukan darinyalah yang menentukan arah diagnosa dokter. Tanpa kerjasama yang baik antara pasien dan dokter, pasien mungkin tidak mendapatkan terapi yang tepat dan bahkan pasien pun lalu bisa melancarkan tuduhan malapraktik kepada dokter apabila hasil pengobatan ternyata tidak sesuai dengan harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sebaiknya pasien berinteraksi dengan dokter? Mungkin ada baiknya pasien belajar berkomunikasi secara efektif dengan dokter. Selain mengemukakan keluhannya secara jelas dan sistematis kepada dokter, pasien juga harus menanyakan tentang opsi terapi atau tindakan medis apa saja yang tersedia (lengkap dengan uraian tentang benefit and risk) serta prognosis (ekspektasi) dari pengobatan tersebut. Pasien harus berani bertanya kepada dokter apabila ia tidak mengerti karena memang hal itu adalah hak seorang pasien. Adalah tugas dokter untuk membantu pasien memahami seluk-beluk penyakitnya dan semua opsi yang bisa dipilihnya sehingga pasien dapat menetapkan suatu informed decision tentang apa yang harus diperbuat dokter padanya. Kalaupun nantinya sang pasien meminta dokter untuk memutuskan terapi apa yang terbaik untuknya, paling tidak pasien sudah mengetahui apa yang bisa ia harapkan dari tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadapnya dan resiko apa saja yang harus dihadapinya sebagai akibat dari tindakan tersebut. Mungkin dibutuhkan suatu perubahan pola pikir yang cukup drastis dalam masyarakat Indonesia dalam hal ini, namun perlu diingat bahwa hubungan pasien dan dokter adalah hubungan timbal-balik yang saling mempengaruhi. Jika pasien terus menyerah dan pasrah, jangan harap para dokter mau berhenti bersikap judes, arogan dan paternalistik. Namun, bila pasien menunjukkan pengetahuan yang baik mengenai penyakitnya, maka dokter akan berhati2 dengan kata2nya dan lebih memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperluas pengetahuan, pasien juga dapat merujuk pada berbagai sumber informasi kesehatan. Saat ini banyak buku, situs Internet, maupun seminar yang menawarkan berbagai informasi kesehatan sehingga pasien dapat membekali diri dengan pengetahuan dasar tentang kesehatan. Perlu diingat dalam hal ini bahwa tidak semua sumber memuat informasi yang benar; tidak sedikit yang menyesatkan karena diselenggarakan oleh industri untuk mencari laba. Untuk itu tidak ada salahnya jika pasien mencari informasi dari berbagai sumber atau merujuk pada sumber yang bersifat netral seperti National Health Institute di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien juga perlu menyadari bahwa kalaupun ia memiliki pengetahuan yang luas tentang kesehatan, hal itu tidak serta-merta menjadikannya seorang dokter. Saat ini banyak orang yang cenderung potong kompas mengobati dirinya sendiri atau anggota keluarganya dengan alasan tidak percaya lagi pada layanan kesehatan di Indonesia atau malas datang ke dokter. Hal ini didukung oleh keadaan di mana obat yang harusnya diresepkan oleh dokter pun dapat dibeli secara bebas di apotik. Fenomena ini mencemaskan karena pengobatan diri sendiri (self-medication) dalam arti yang sesungguhnya hanya terbatas pada gejala remeh-temeh dan itupun harus disikapi secara bijak oleh sang pasien karena ia harus menentukan sampai sejauh mana dia bisa harus berhenti mengobati dirinya sebelum berkonsultasi ke dokter. Pengobatan diri sendiri secara liberal dapat berakibat keracunan obat yang membahayakan keselamatan jiwanya. Dan kalau ini sudah terjadi, tidak tertutup kemungkinan pengobatan yang kemudian harus dijalani sang pasien menjadi makin sulit dan mahal. Sebelum memutuskan pengobatan apa yang tepat, perlu disusun sebuah anamnesis yang baik dan ditegakkan sebuah diagnosa – semua ini memerlukan keahlian klinis yang hanya dimiliki dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pihak dokter, mungkin ada baiknya jika dokter pun belajar berkomunikasi lebih baik dengan pasien. Kalangan dokter sendiri mengemukakan bahwa sering terjadi perbedaan dalam bahasa yang digunakan oleh dokter dan pasien (doctor talk versus patient talk). Sebuah artikel karangan Rachel Sobel di New England Journal of Medicine yang berjudul Medicine as Second Language menjabarkan secara rinci bagaimana sulitnya para siswa sekolah kedokteran atau para dokter muda menjembatani perbedaan tersebut; bahkan mereka pun menganggap bahwa mempelajari doctor talk adalah seperti mempelajari bahasa asing. Namun mungkin yang lebih penting adalah kemauan sang dokter untuk mendengarkan dan merekam secara lengkap semua keluhan dan sejarah penyakit sang pasien sebelum menegakkan diagnosa. Saya rasa yang kita butuhkan bukanlah dokter yang jenius, tapi dokter yang tidak terlalu bodoh dan mau meluangkan waktu bagi pasiennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melinda Wiria&lt;br /&gt;Alumnus University of Pennsylvania&lt;br /&gt;Dept of Bioengineering, Class of 1996&lt;br /&gt;mnwiria@alumni.upenn.edu&lt;br /&gt;http://health.yahoogroups.com/health-talk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33690076-117089525266371424?l=berita-koass.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/117089525266371424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33690076&amp;postID=117089525266371424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/117089525266371424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/117089525266371424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/2007/02/hubungan-dokter-pasien.html' title='Hubungan Dokter-Pasien'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076.post-116792972154141667</id><published>2007-01-05T00:32:00.000+08:00</published><updated>2007-01-05T01:22:44.336+08:00</updated><title type='text'>Sistem Baru Itu Mengkhawatirkan!</title><content type='html'>Menyusul rencana pemberlakuan Sistem Baru Terintegrasi pada program pendidikan klinik di Fakultas Kedokteran Unhas, kekhawatiran dan beragam kekecewaan mulai muncul di kalangan mahasiswa. Baik pra klinik maupun klinik. Ketakutan muncul karena belum adanya kejelasan pelaksanaan sistem baru tersebut, sementara waktu terus berjalan dan hingga saat ini, mahasiswa yang akan segera melanjutkan pendidikan klinik harus menunggu hingga batas waktu yang belum pasti.&lt;br /&gt;"Kami merasa rugi dengan kondisi seperti ini. Terus terang, kami ingin secepatnya melangsungkan pendidikan koass (klinik-red) tanpa harus menunggu lebih tiga bulan", kesal seorang mahasiswa angkatan 2003 yang ditemui Berita Koass di bagian Akademik FK UNHAS beberapa waktu yang lalu.&lt;br /&gt;Ketika dihubungi terpisah, koordinator Medical Education Unit (MEU) dr. Budu, Ph.D mengatakan bahwa pihaknya masih terus menjajaki kemungkinan memberlakukan sistem baru ini secepatnya. "Kita sekarang ini masih terus berbenah dan menyelesaikan berbagai persiapan untuk implementasi sistem baru ini. Tetapi kami jamin jika kami melihat ada beberapa hal yang belum siap, sistem ini belum akan dijalankan", jelasnya di sela-sela diskusi Keluarga Mahasiswa FK UNHAS yang digelar di Ruang HMR Student Centre, pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal senada diakui pula Dekan Fakultas Kedokteran UNHAS dr. Irawan Jusuf. Beliau menyatakan bahwa jika belum kelihatan kesiapan kita melaksanakan sistem baru ini, maka pemberlakuannya akan ditangguhkan. "Kita lihat nanti. Kalau saya belum yakin sistem ini siap dilaksanakan, saya akan tangguhkan. Kepurusan semua ini ada di rapat senat fakultas pada pertengahan Januari ini", ungkap peneliti Eijkman Jakarta ini dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jas Dokter Muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran UNHAS Prof DR. dr. Suryani As'ad, MSc menjelaskan beberapa hal baru pada pelaksanaan pendidikan kepaniteraan klinik tahun 2007 ini.&lt;br /&gt;"Ada perubahan jas, dari model lama menjadi model jas dokter seperti biasanya", jelasnya kepada mahasiswa yang berkumpul di seputaran bagian akademik FK UNHAS.&lt;br /&gt;Menanggapi perubahan jas ini, seorang presidium ISKEDI memberikan komentar. "Perubahan model jas tanpa disertai perbaikan dalam mentalitas dan sistem pendidikan di klinik tidak akan banyak menuai hasil positif. Padahal kita semua berharap, ke depan, pendidikan klinik di RS benar-benar berlangsung positif, dalam penfertian masih menghargai sisi-sisi kemanusiaan koass, tidak seperti selama ini di mana koass benar-benar berada pada posisi yang lemah dan selalu terdzalimi", ujarnya di pelataran Lontara I RSWS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33690076-116792972154141667?l=berita-koass.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/116792972154141667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33690076&amp;postID=116792972154141667' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/116792972154141667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/116792972154141667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/2007/01/sistem-baru-itu-mengkhawatirkan.html' title='Sistem Baru Itu Mengkhawatirkan!'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076.post-116645786120218743</id><published>2006-12-18T23:52:00.000+08:00</published><updated>2006-12-19T00:04:21.603+08:00</updated><title type='text'>Oknum Supervisor Bagian Kulit Dianggap Sudah Keterlaluan</title><content type='html'>Wajah murung menghinggapi koass-koass bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin siang itu. Mereka tercatat sebagai koass minggu kedua di bagian ini. Seperti biasanya, aktivitas koass minggu kedua sebagian besar terpusat di Rumah Sakit Labuang Baji Makassar (RSLB). Untuk bisa memulai kegiatan pendidikan klinik, setiap koass diwajibkan untuk "melapor" kepada Supervisor pengajar di RSLB tersebut. Sebutlah inisial dr.RB. &lt;br /&gt;Siang itu, dr. RB meminta koass-koass Kulkel untuk segera melaporkan keberadaan mereka di "rumah"nya. Sebagaimana yang telah banyak diceritakan sebelumnya, perilaku dr. RB ini dalam menerima kehadiran koass2 Kulkel bisa dibilang kelewatan karena terkadang dr. RB menghardik dan mencaci maki koass2 kulkel secara tidak manusiawi dengan tanpa alasan yang jelas. Termasuk mempertanyakan hal-hal di luar relevansinya dengan pendidikan klinik. Banyak pengakuan yang diungkapkan mereka yang telah "lolos" dari "neraka" pendidikan klinik ini.&lt;br /&gt;"Dr. RB memang kadang keterlaluan memperlakukan koass, bahkan beberapa di antara kami merasa telah diinjak-injak harga dirinya", ungkap salah seorang koass senior tingkat enam suatu ketika.&lt;br /&gt;SElain mencaci maki, perilaku dr. RB juga dianggap telah melecehkan etnis-etnis tertentu dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak sewajarnya diucapkan oleh sorang dokter dan pendidik.&lt;br /&gt;"Ini RS Pendidikan. Kami para koass datang ke sini untuk belajar, bukan untuk dicaci maki tanpa alasan yang jelas", gugat seorang koass kulkel yang ditemui ISKEDI di RSLB.&lt;br /&gt;Menyikapi ini, Ikatan Sarjana Kedokteran Indonesia (ISKEDI) Makassar bermaksud melakukan klarifikasi bahkan hingga penuntutan ke pihak Fakultas Kedokteran. &lt;br /&gt;"INi sudah harus dihentikan sebelum menjadi smacam budaya baru di dunia kedokteran kita", tegas seorang presidium ISKEDI di kantornya, kemarin.&lt;br /&gt;Nah, bagaiman reaksi Fakultas Kedokteran untuk permasalahan ini? Kita nantikan !&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33690076-116645786120218743?l=berita-koass.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/116645786120218743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33690076&amp;postID=116645786120218743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/116645786120218743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/116645786120218743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/2006/12/oknum-supervisor-bagian-kulit-dianggap.html' title='Oknum Supervisor Bagian Kulit Dianggap Sudah Keterlaluan'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076.post-115710270397168313</id><published>2006-09-03T17:12:00.000+08:00</published><updated>2006-09-01T18:14:05.186+08:00</updated><title type='text'>Lagi, Kecurian Melanda Ko Ass</title><content type='html'>Dini hari (16/8), Ko Ass Bedah yang sedang bertugas di Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSWS sontak dikejutkan oleh hilangnya 4 buah handphone milik beberapa orang di antara mereka. Chief Ko Ass yang bertugas saat itu, Fahmiyanti Arsy mengatakan bahwa ini bukan kejadian pertama kali di bedah. Kejadian yang serupa juga telah sering terjadi pada beberapa waktu belakangan. "Ini peristiwa yang kesekian kalinya di bedah", ungkapnya.&lt;br /&gt;Mengaca pada peristiwa ini, beberapa Ko Ass yang ditemui sepakat akan memulai gerakan moral untuk membasmi tindak pencurian dan kleptomania di rumah sakit. "Kalau perlu, kita akan demo untuk menegaskan sikap terhadap kasus memalukan ini", teriak salah seorang Ko Ass di pelataran Lontara III RSWS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33690076-115710270397168313?l=berita-koass.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/115710270397168313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33690076&amp;postID=115710270397168313' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/115710270397168313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/115710270397168313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/2006/09/lagi-kecurian-melanda-ko-ass.html' title='Lagi, Kecurian Melanda Ko Ass'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076.post-115710517670797905</id><published>2006-09-01T17:42:00.000+08:00</published><updated>2006-09-01T18:06:16.716+08:00</updated><title type='text'>Kasus Pencurian HP di IRD</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasus kecurian yang menimpa Ko Ass Bedah beberapa waktu yang lalu menyisakan sejumlah tanda tanya. Dari perkembangan investigasi yang dilakukan oleh pihak Ko Ass Bedah FKUH/RSWS, dijumpai beberapa sinyalemen menarik yang mengarah kepada seorang tersangka yang selama ini memang sudah dicurigai sebagai dalang kasus-kasus pencurian barang milik Ko Ass atau Residen. Ironisnya, tersangka tersebut juga termasuk salah seorang Residen (dokter umum yang sedang mengambil program pendidikan dokter spesialisasi, red) di rumah sakit besar Indonesia Timur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dikembalikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendiskusikan kasus ini dengan pihak Ikatan Sarjana Kedokteran Indonesia (ISKedI) Makassar, Chief Ko Ass Bedah saat peristiwa itu terjadi, Fahmiyanti Arsy mengatakan, barang curian tersebut (16/8), entah karena alasan apa, telah dikembalikan sendiri oleh 'sang tersangka' kepadanya. "Dokter 'T' menelepon saya untuk menemuinya di depan gedung Sawit esok harinya setelah kasus kecurian itu (17/8-red). Beliau mengembalikan barang-barang tersebut berikut sejumlah uang tunai untuk mengganti SIM Card yang telah dibuangnya", ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kriminal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Perisitiwa pencurian memang kerap terjadi di rumah sakit dan menimpa bukan saja Ko Ass, tetapi juga para dokter spesialis atau lebih dikenal sebagai Residen. Hal ini membuat banyak pihak memandang bahwa masalah ini mesti diselesaikan karena telah dianggap sebagai kasus kriminal yang melibatkan kalangan akademisi kedokteran.&lt;br /&gt;Dalam diskusi di RSWS, pihak ISKedI yang diwakili oleh Malik Chandra menegaskan sikapnya terkait dengan kasus ini. "Bagaimanapun, kasus ini mesti segera diselesaikan oleh pihak Rumah Sakit bersama PPDS Fakultas Kedokteran Unhas sebagai penanggung jawab pelaksanaan pendidikan dan peserta didik di lingkungannya, baik secara hukum maupun secara akademik", tegas Macan yang diamini oleh pengurus ISKedI lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan terpisah, Mantan Ketua Umum Badan Eksekuti Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran UNHAS Kurnia Akmal mengatakan bahwa persoalan ini tidak boleh didiamkan, apalagi seolah-olah dipetieskan. "Ini kasus serius yang dapat mengancam reputasi dan citra institusi rumah sakit maupun Fakultas sebagai lembaga ilmiah yang menjunjung tinggi hukum. Tidak boleh dipetieskan atau dianggap telah selesai karena barang curian itu telah dikembalikan", ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana respon pihak Rumah Sakit maupun Fakultas Kedokteran Unhas untuk hal ini? Kita nantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33690076-115710517670797905?l=berita-koass.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/115710517670797905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33690076&amp;postID=115710517670797905' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/115710517670797905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/115710517670797905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/2006/09/kasus-pencurian-hp-di-ird.html' title='Kasus Pencurian HP di IRD'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33690076.post-115721599671300636</id><published>2006-08-22T00:47:00.000+08:00</published><updated>2006-09-03T00:53:17.263+08:00</updated><title type='text'>Menunggu Perubahan Dunia Pendidikan Klinik</title><content type='html'>Sejumlah maalah memang masih menghinggapi berlangsungnya sistem pendidikan klinik saat ini. Benturan pada kultur lama hingga tuntutan untuk membenahi kurikulum pendidikan agar lebih up date, menjadi pekerjaan berat pihak Fakultas Kedokteran. &lt;br /&gt;Sementara siklus terus berlangsung, masyarakat menuai hasil luaran pendidikan klinik ini dengan harap-harap cemas. Akankah mereka akan menjemput hasil yang bakal menjerumuskan mereka pada praktik kedokteran yang salah? Saat ini kita sedang menunggu perubahan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semoga harapan benar-benar terwujud untuk kemajuan pendidikan kedokteran masa depan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33690076-115721599671300636?l=berita-koass.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berita-koass.blogspot.com/feeds/115721599671300636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33690076&amp;postID=115721599671300636' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/115721599671300636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33690076/posts/default/115721599671300636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berita-koass.blogspot.com/2006/08/menunggu-perubahan-dunia-pendidikan.html' title='Menunggu Perubahan Dunia Pendidikan Klinik'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11422512979450418602</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
